Pemahaman Nilai Filosofi, Etika dan Estetika Dalam Wayang

E-mail Print PDF

 

ABSTRAK

 

Wayang termasuk karya seni dan budaya Indonesia yang adi luhung. Di samping bernilai filosofi yang dalam, wayang juga sebagai wahana atau alat pendidikan moral dan budi pekerti atau yang dikenal dengan etika. Dunia perwayangan memberi peluang bagi orang Jawa untuk melakukan suatu pengkajian filsafi dan mistis sekaligus. Di sisi lain, cerita wayang merupakan suatu jenis cerita didaktik yang di dalamnya memuat ajaran budi pekerti yang menyiratkan tentang perihal moral. Bahkan bidang moral merupakan anasir utama dalam pesan-pesan yang disampaikan wayang. Sebagai jenis kesenian yang mencakup beberapa cabang seni (seni teater, ukir, musik, dan sastra), estetika wayang begitu indah dan mempesonakan. Nilai filosofi, etika, dan estetika itulah yang jika ditemukan dalam ritual ruwatan, sebuah tradisi kebudayaan Jawa yang ditandai dengan pergelaran wayang purwa cerita Bathara Kala dalam lakon “Murwakala”

 

  1. PENDAHULUAN

 

Banyak orang, terutama bangsa Barat menganggap, pertunjukan wayang kulit sebagai shadow play atau schaduwenspel, sebuah permainan dengan bayang-bayang. Anggapan demikian terlalu naif. Pergelaran wayang tidak bisa disamakan dengan show boneka panggung Michael Meschke (73) asal Swedia di Teater Kecil TIM awal Maret 2005 lalu, yang diadaptasi dari teknik wayang Jepang, Bunraku. Wayang mengandung arti jauh lebih dalam. Ia mengungkapkan gambaran hidup semesta atau wewayanganing ngaurip, yang tidak ada hubungannya dengan bayang-bayang berupa silhouette hitam pada kelir yang ditimbulkan oleh sesuatu benda yang diterangi blencong.

 

Wayang memberikan gambaran lakon perikehidupan manusia dengan segala masalahnya yang menyimpan nilai-nilai pandangan hidup dalam mengatasi segala tantangan dan kesulitannya. Dalam wayang selain tersimpan nilai moral dan estetika, juga nilai-nilai pandangan hidup masyarakat Jawa. Melalui wayang, orang memperoleh cakrawala baru pandangan dan sikap hidup umat manusia dalam menentukan kebijakan mengatasi tantangan hidup. Hal itulah yang dirasakan Dr Franz Magnis Suseno SJ, seorang sarjana filsafat dan rohaniawan kelahiran Jerman yang kini bermukim di Jawa. Setelah menekuni wayang, sampaikah dia pada kesimpulan bahwa dalam memasuki kebudayaan Jawa, ternyata manusia memasuki kesadaran paling dalam seluruh umat manusia. Kebijaksanaan Jawa yang paling dalam, ternyata milik seluruh umat manusia. 1) Cerita wayang merupakan suatu jenis cerita didaktik yang memuat ajaran budi pekerti. Bahkan bidang moral, merupakan anasir utama dalam pesan-pesan wayang. Dua aspek (filosofi dan etika) dalam wayang ini disempurnakan dengan nilai estetika wayang sehingga seni wayang yang mencakup cabang kesenian ini (seni teater, musik, sastra, ukir, dan sebagainya), menjadi sebuah seni yang bernilai tinggi. Bisa dipahami, jika di tahun 2004 lalu, seni dan budaya wayang kulit dari Indonesia ini (the Wayang Puppet Theater of Indonesia) dinobatkan sebagai karya adiluhung (masterpiece) oleh PBB. Menurut Unesco, 28 jenis seni dan kebudayaan di dunia ini, wayang kulit menempati urutan pertama sebagai karya adi luhung lisan warisan kemanusiaan yang tak dapat dinilai (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

 

  1. I PENGERTIAN ISTILAH

 

Sebagai kelanjutan dari yang disebutkan dalam pendahuluan, perlu disampaikan uraian mendalam dalam sebuah judul “Pemahaman Nilai Filosofi, Etika, dan Estetika dalam Wayang”. Untuk memperoleh kesamaan tolak pangkal berpijak dan guna menghindari kesimpangsiuran interpretasi, perlu kita sepakati apa yang dimaksud dengan nilai, filosofi, etika, estetika, dan wayang, dalam makalah ini.

 

  1. Nilai

 

Perkataan “nilai” dapat didefinisikan sebagai perasaan tentang apa yang baik atau apa yang buruk, apa yang diinginkan atau apa yang tidak diinginkan, apa yang harus atau apa yang tidak boleh ada (Bertrabd 1967). Nilai berhubungan dengan pilihan, dan pilihan itu merupakan prasyarat untuk mengambil suatu tindakan. Seorang berusaha mencapai segala sesuatu yang menurut sudut pandangannya mempunyai nilai-nilai. Robin Williams (1960) membicarakan “nilai sosial”, yaitu nilai yang dijunjung tinggi orang banyak. Ada juga “nilai etika atau moral”, yakni ketentuan-ketentuan atau cita-cita dari apa yang dinilai baik atau benar oleh masyarakat. Satu lagi, “nilai budaya” yakni konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagai besar masyarakat, mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup. (Koentjaraningrat 1980).

 

  1. Filosofi

 

Istilah filosofi berasal dari kata Yunani “philosophia” yang berarti “cinta kearifan”. Kata lain dari filosofi adalah filsafah, falsafah, falsafat), yang berarti pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada. Sebab, asal, dan hukumnya. Definisi lain, ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi. Sementara Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS Poerwadarminta didefinisikan dengan : pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab, asas hukum, dan sebagainya tentang segala yang ada dalam alam semesta, ataupun mengenai kebenaran arti “adanya” sesuatu.

 

Filsafat menurut anggapan orang Jawa ialah, usaha manusia untuk memperoleh pengertian dan pengetahuan tentang hidup menyeluruh dengan mempergunakan kemampuan rasio plus indera batin (cipta-rasa). Maka bagi kita, berfilsafat berarti “cinta kesempurnaan” (ngudi kasampurnan, ngudi kawicaksanan) dan bukan semata-mata “cinta kearifan”. 2) Jika orang jawa menyebut bahwa wayang mengandung filsafat yang dalam, dunia perwayangan memberi peluang bagi orang Jawa untuk melakukan suatu pengkajian filsafi dan mistis sekaligus. Dunia perwayangan kaya sekali dengan lambang atau pasemon, bahkan hampir seluruh eksistensi wayang itu sendiri adalah “pasemon”.

  1. Etika

 

Bidang yang bersifat normatif, yang bersangkut paut dengan kesusilaan (akhlak, moral), merupakan salah satu bidang filsafat yang disebut “etik” atau “etika”. Dalam hal ini, etik memberi nilai buruk atau baik atas perbuatan seseorang. Dengan demikian, etik atau etika (ethice), merupakan filsafat tingkah laku yang di dalamnya memuat perihal penilaian, yaitu penilaian terhadap tindakan yang dapat dikatakan baik atau buruk berdasarkan ukuran-ukuran tertentu. Oleh karena itu, Miklananda mendefinisikan etika sebagai ilmu yang mengajarkan manusia “bagaimana seharusnya hidup”, atau Plato memandangnya sebagai ilmu yang mengajar manusia “bagaimana manusia bijaksana hidup”, (Hazim Amir 1991; 97). Hal ini sesuai dengan konsep etika menurut wayang yakni mendidik manusia ke arah tingkah laku yang sempurna, yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

 

  1. Estetika

 

Estetika (estetis) adalah cabang filsafat yang mempersoalkan seni (art) dan keindahan (beauty). Istilah estetika berasal dari kata Yunani “aesthesis”, yang berarti pencerapan indrawi, pemahaman intelektual, atau bisa juga berarti pengamatan spiritual. Istilah art (seni) berarti seni, keterampilan, ilmu, atau kecakapan. Keindahan atau estetika merupakan bagian dari sebuah filsafat, sebuah ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi. Batasan keindahan sulit dirumuskan. Karena keindahan itu abstrak, identik dengan kebenaran. Maka batas keindahan pada sesuatu yang indah, dan bukannya pada “keindahan sendiri”

 

  1. Wayang.

 

Yang dimaksud wayang di sini, pertunjukan panggung atau teater atau dapat pula berarti aktor dan aktris. Wayang sebagai seni teater berarti pertunjukan panggung di mana sutradara (dalang) ikut bermain yang peranannya dapat mendominasi pertunjukan seperti dalam wayang Purwa di Jawa, wayang Ramayana di Bali, dan wayang Banjar di Kalimantan.. 3) Ada puluhan jenis wayang yang terbesar di Indonesia. Dari semua jenis wayang itu, yang paling terkenal dan tersebar luas di dalam dan di luar negeri adalah, wayang purwa. Sebuah jenis pertunjukan wayang kulit lakon-lakon yang semula bersumber pada cerita kepahlawanan India, yaitu Ramayana dan Mahabharata. Dari Jawa Timur, wayang purwa menyebar ke Bali, Kalimantan, dan Sumatra dan dipentaskan dengan bahasa-bahasa setempat. Wayang purwa atau wayang kulit (meski nama ini tidak tepat), telah disebut dalam Kakawin Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa di zaman Airlangga (109-1043), dalam sarga V syair ke-9.

 

Wayang yang dibahas dalam makalah ini adalah jenis wayang purwa, yang difokuskan pada telaah ritual ruwatan dengan lakon Murwakala. Di sini digunakan cara pendekatan yang berpangkal tolak dari penguraian wayang purwa, yang ciri-ciri pokoknya dapat dibandingkan dengan jenis-jenis wayang lainnya.

 

  1. NILAI FILOSOFI WAYANG

 

Filsafat dan wayang, keduanya tidak dapat dipisahkan. Berbicara tentang wayang berarti kita berfilsafat. Wayang adalah filsafat Jawa. Karena wayang mengambil ajaran-ajarannya dari sumber sistem-sistem kepercayaan, wayang pun menawarkan berbagai macam filsafat hidup yang bersumber pada sistem-sistem kepercayaan tersebut, yang dari padanya dapat kita tarik suatu benang merah filsafat wayang.

 

  1. Tujuan Hidup Manusia

 

Hidup haruslah berdasarkan kepada apa yang dinamakan kebenaran. Dan menurut wayang, “kebenaran sejati” (ultimate truth) hanyalah datang dari Tuhan. Untuk mendapatkan ini, manusia harus dapat mencapai “kesadaran sejati” (ultimate awareness) dan memiliki “pengetahuan sejati” (ultimate knowledge). Untuk itu, manusia harus dapat melihat “kenyataan sejati” (ultimate reality) dengan melakukan dua hal. Pertama, mempersiapkan jiwa raganya sehingga menjadi manusia yang kuat dan suci, dan kedua memohon berkah Tuhan agar dirinya terbuka bagi hal-hal tersebut (tinarbuka).

 

Dimaksudkan terbuka di sini adalah, sesuatu yang dicapai bukan melulu dari kekuatan penalaran atau rasio. Saat rasio terhenti, untuk mencapai kebenaran sejati, manusia harus menggunakan “rasa sejati” (ultimate feeling) melalui mistik. Jika filsafat oleh orang Barat dilakukan atas dasar rasio semata (akal, budi, pikiran, nalar), maka bagi dunia kejawen pengkajian kebenaran dilakukan melalui rasio plus indera batin. Inilah bedanya antara “ilmu” dan “ngelmu”. Dengan mistis, manusia dapat melihat “kenyataan sejati” tentang dirinya, asal mula diri dan kehidupannya, yang semua itu dirangkum dalam ajaran “sangkan paraning dumadi” (asal mula dan akhir kehidupan manusia). 4)

 

Wayang semacam “Kitab Undang-undang Hukum Dharma” (KUHD) yang menuntun manusia dalam meniti jalan kehidupan antara “sangkan” (asal) dan “paran” (tujuan) menuju yang abadi (Tuhan). UU Dharma itu tidak dituang dalam berbagai bab, pasal, dan ayat sebagaimana UU Hukum Kenegaraan,malainkan terjalin dalam serangkaian kisah-kisah simbolik yang menarik semacam “dharmakathana” atau “dharmmasarwacastra” yang menggambarkan pertarungan dua kekuatan yang berlawanan dalam diri manusia. Kekuatan destruktif (napsu rendah, keangkaramurkaan) yang menuju kepada kemungkaran (hidup sesat, urip sasar-susur), dan satu lagi kekuatan konstruktif (napsu luhur, keutamaan) yang mengangkatnya kepada kebenaran. 5) Sebagai pasemon, perlengkapan wayang seperti kotak kelir, blencong, dan dalang yang digunakan dalam pertunjukan wayang, juga mengandung nilai filosofi tentang ilmu sangkan paraning dumadi. Kelir melambangkan jagad kang gumelar, blencong sebagai surya yang meneranginya, wayang diperjalankan oleh dalang yang melambangkan Gusti, sementara kotak sebagai alam baka setelah berkiprah di jagad “pakeliran”.

 

Seni pertunjukan wayang itu sendiri, juga mengandung nilai filosofi. Sebagai contoh, gending-gending pembukaan (talu) yang mengawali sebuah pergelaran wayang, sudah dibakukan jenis dan urutannya. Gending patalon itu terdiri dari Cucur bawuk, dilanjutkan Pare Anom, Ladrang Srikaton, Ketawang Sukmailang, naik ke Gending Ayak-ayakan Manyura dan Srepegan Manyura, dan dipungkasi Gending Manyura. Gending patalon ini melambangkan suatu tataran tingkat kehidupan manusia, atau penjelmaan zat. Gending patalon ditabuh sebelum pertunjukan sebagai lambang penjelmaan zat sebelum manusia lahir di alam kehidupan nyata. Ini berarti, rancangan tataran tingkat kehidupan manusia sudah ada terlebih dulu di zaman alam baka.

 

  1. Ketauladanan dalam Wayang

 

Manusia sebagai makhluk batas antara kedua kekuatan yang berlawanan (konstruktif dan destruktif), selalu diharapkan kepada suatu pilihan yang dilematis, yakni konflik dengan dirinya sendiri. Di sini, terserah kepada manusia sendiri jalan mana yang dipilihnya, dengan resiko masing-masing. Dalam menghadapi dualisme demikian ini, manusia memerlukan pemimpin yang dianggap bisa membimbing dan menuntunnya menuju jalan yang benar menurut ajaran dharma yang berlaku dan dianutnya.

 

Secara teologis, kepemimpinan dalam agama atau kepercayaan adalah petunjuk Tuhan dalam Kitab Suci (Alquran, Bible, Wedha dan sebagainya). Yang berwujud figur manusia, bisa berupa Nabi, Rasul, dan Orang-orang Suci. Ada beberapa tokoh pewayangan yang bisa dijadikan pemimpin atau panutan bagi manusia hidup di dunia. Uniknya, dalam sistem filsafat perwayangan, tokoh pemimpin sentralnya ternyata bukanlah seorang raja yang menjadi pahlawan dalam sebuah lakon seperti Sri Ramawijaya, Prabu Basukarna, Sri Kresna, Prabu Suyudana, atau Bathara Guru. Lalu siapa? Kiai Semar Badranaya sang panakawan (punakawan). Para panakawan adalah sahabat-sahabat yang arif. Mereka selalu mengabdi kepada kesatria yang berbudi luhur, dari pihak yang memperjuangkan kebenaran dan keagungan.

 

Semar adalah tokoh Panakawan asli bangsa Indonesia sejak 2500 tahun lalu. Tetapi dalam kisah perwayangan, Semar adalah Bathara Ismaya. Dewa ini turun ke bumi di Karangkedhempel dengan misi suci mengabdi kepada manusia yang berbudi luhur. Istilah Jawanya, “dewa ngawula kawula kang ngawula dewa’, dewa mengabdi manusia yang beriman kepada Tuhannya. Jika nabi dari rasul adalah pemimpin yang mendasarkan kepemimpinannya atas ajaran Kitab Suci, Semar kepemimpinannya atas kelima prinsip “sangkan paraning dumadi”. Semar lebih banyak berada di belakang layar sebagai panakawan (abdi, batur) yang selalu “tut wuri handayani’. Karena itu, siapa saja yang diemong Semar (yang berarti iman kepada Allah), akan memperoleh kejayaan. Sebagai pasemon, Semar melambangkan kesadaran kita yang paling dalam, yakni rasa eling (ingat). Rasa eling inilah yang memimpin kita meniti jalan kehidupan kita antara sangkan dan paran menuju “Yang Abdi”. Rasa eling ini diharapkan senantiasa melindungi kita dari goda dan bencana. Jika dalam menghadapi kemelut apapun dan sebesar apapun, kita selalu eling dan waspada, insya Allah kita akan aman dan rahayu slamet nir sambekala.

 

  1. Aspek Filosofi dalam Ritual Ruwatan

 

Satu lagi aspek pertunjukan wayang yang mengandung nilai filosofi adalah, ritual ruwatan. Awal mulanya, wayang memang sebagai upacara keagamaan masyarakat Jawa yang berkepercayaan animisme dan dinamisme, tetapi kemudian menjadi sarana ritual ruwatan dan pertunjukan yang profan. Ritual ruwatan sejak zaman Majapahit ini bisa dilihat pada relief yang dibangun di zaman itu seperti pada Candi Sukuh (Jateng) dan Candi Tegalwangi (Jatim). Ruwatan bertujuan untuk membersihkan manusia dari kesialan (sukerta) demi penyelamatan manusia melalui ritual tertentu dan pergelaran wayang ruwatan dengan lakon Murwakala. Ritual ini masih sering dilakukan masyarakat Jawa, baik secara perorangan maupun berupa ruwatan massal. Seluruh pola lakon Murwakala bersumberkan asli Jawa, yang bisa ditilik dari rekaman nama-nama para pelakunya seperti Jusmati, Nyai Randha Prihatin, dan Buyut Wangke. Bahkan Bathara Wisnu pun beralih nama menjadi Dalang Kandha Buwana, dan Narada menjadi Pengendhang Karurungan.

 

Sinopsis lakon Murwakala dengan ritual ruwatan itu sebagai berikut. Bathara Kala adalah putra Sang Hyang Manikmaya (Bathara Guru) dengan Dewi Umayi yang keenam. Ketika keduanya pesiar mengendarai Lembu Andini, Manikmaya terangsang berat untuk menyenggamai istrinya. Karena Umayi menolak, dia dikutuk menjadi raseksi bernama Bethari Durga dan bermukim di Setra Gandamayit. Mani (kama, rahsa) Manikmaya jatuh ke samudra dan lahirlah bayi raksasa yang membuat keonaran di laut. Hal ini membuat Dewa Laut mengadu ke Suralaya, yang kemudian mengerahkan para dewa untuk memeranginya, namun kalah. Baru setelah dikenai aji kemayan, bayi itu menyerah. Taring kanannya dipotong dan berubah menjadi keris Kalanadah, sedang taring kiri berubah menjadi Kaladita. Bayi raksasa itu kemudian diakui sebagai anak Bathara Guru dan dinamai Bathara Kala diberi wewenang untuk menjadi jalma atau janma sukerta dan orang aradan, yaitu orang yang lalai dalam kehidupannya.

 

Dahi Bathara Kala digores dengan tiuisan Rajah Kalacakra. Bagi orang yang mampu membacanya, dia terlepas jadi santapannya. Bathara Kala juga diberi gada (bedana) oleh Bathara Guru untuk memburu calon mangsanya. Pemberian hak dan wewenang istimewa ini diprotes Bethara Narada karena dianggap berlebihan yang mengakibatkan kekacauan di dunia. Bathara Guru menginsyafi kesalahannya dan kemudian mengutus Bathara Wisnu sebagai Dalang Kandha Buwana untuk menggagalkan ulah Bathara Kala. Ketika Kandha Buwana sedang memainkan wayang lakon Murwakala, datanglah Bathara Kala mengejar-ngejar mangsanya yang jalma sukerta. Maksudnya menjadi terhalang ketika Kandha Buwana mampu me-wedar-kan Rajah Kalacakra di dahi Bathara Kala. Demikianlah, Bathara Kala lalu di-ruwat atau disucikan ki dalang, termasuk mangsanya pun ikut tersucikan.

 

Ada 136 jenis dan kriteria janma sukerta tandha kala yang menjadi mangsa Bathara Kala sehingga orang itu perlu di-ruwat. Ruwatan dengan aneka sesajian seperti nasi gurih, tumpeng robyong, jadah, bubur, sirih, buah, bunga, telur ayam, sepasang burung dan lain-lain menurut bentuk ruwatan yang akan dijalankan. Seluruh upacara dipimpin oleh dalang, Selain adat potong rambut dan yang diruwat mengenakan busana kain putih (lawon), yang pasti ditandai dengan pergelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala. Biasanya pergelaran ruwatan ini diselenggarakan di siang hari.

 

Ritual ruwatan yang merupakan tradisi Jawa yang bisa dianggap sebagai kegiatan yang irasional. Tetapi seperti disebutkan di muka, kebenaran dalam dunia kejawen tidak selamanya harus mandek pada rasio, tetapi rasio plus indera batin. Pendekatan ruwatan haruslah dengan pendekatan kultural yang dalam hal ini budaya Jawa. Filosofi dari ritual ruwatan harus dipandang sebagai sarana untuk membebaskan predikat sukerta manusia. Manusia sukerta adalah manusia yang dilahirkan secara kodrati membawa kelainan psikologis (bukan sakit jiwa). Sehingga memerlukan terapi khusus berupa ruwatan. Ruwatan dilakukan oleh dalang sejati Kandha Buwana yang sudah mempunyai dalam hal ngelmu sangkan paraning dumadi melalui ajaran yang tersirat dalam Rajah Kala Cakra.

 

Ruwatan merupakan hasil budaya manusia Jawa yang mengandung simbol ajaran-ajaran yang dalam tentang kehidupan. Budaya ini bisa dikaji melalui berbagai disiplin ilmu: pedagogi, psikologi, antropologi, filsafat, dan juga melalui budaya spriritual. Lewat ruwatan, diharapkan mampu membuka kesadaran yang paling dalam pada diri manusia untuk mengenali diri sendiri dan kedudukannya di tengah kehidupan alam semesta. Dengan penyadaran itu, diharapkan manusia menjadi tinarbuka dan menyadari akan kekuatan dan kelemahannya, serta menyadari alam kekuasaannya dan kepasrahannya. Pada hakikatnya, ruwatan merupakan simbol penyelamatan kondisi psikologis manusia, melepaskan diri dari sukerta atau kesialan. Hilangnya gigi atau taring Bathara Kala, memperjelas pemaknaan simbolik yang dikandung, bahwa yang diincar sebagai mangsanya bukan bentuk fisiknya, melainkan ketimpangan psikisnya yang tak seimbang. Terapinya lewat jalur kultural, yakni pembudayaan dan pendidikan yang holistik.

 

  1. NILAI ETIKA DALAM PERWAYANGAN

 

Nilai etika yang dibahas dalam makalah ini, adalah nilai-nilai yang terkandung dalam cerita wayang, baik menurut babon Ramayana atau Mahabharata maupun cerita dalam lakon pedhalangan. Cuplikan cerita hanya merekomendasi sebagian tata nilai dari kompleksitas nilai budaya yang pernah berkembang pada masyarakat Jawa Kuna.

 

  1. Anasir Pendidikan Etika dalam Wayang

 

Cerita perwayangan memuat anasir pendidikan. Karena itu, dapat digunakan sebagai salah satu media dalam upaya untuk mengubah tingkah laku atau sikap seseorang dalam rangka mendewasakan manusia. Cerita wayang bukan saja merupakan salah satu sumber pencarian nilai-nilai bagi kelangsungan hidup masyarakat, namun juga sebagai wahana atau alat pendidikan. 6) Sebagai alat pendidikan, wayang menawarkan ajaran dan nilai-nilai yang tidak secara dogmatis sebagai indotrinasi. Terserah penikmat menafsirkan, menilai, dan memilih nilai-nilai itu. Karena itu, satu sisi tokoh Kumbakarna bisa dinilai sebagai pengkhianat karena berpihak kepada Rahwana kakak kandungnya yang menculik Dewi Sinta, namun di sisi lain dia bisa dinilai sebagai pahlawan karena jiwa patriotiknya membela Tanah Airnya. Ajaran dan nilai-nilai tersebut juga dihadirkan melalui tokoh-tokoh tertentu seperti Bambang Sumantri yang patriotik, atau Puntadewa yang ,ukhlis, dan Dewi Sembadra yang feminis.

 

Karena cerita wayang merupakan wahana atau alat pendidikan, wayang merupakan wahana bagi proses sosialisasi ataupun enkulturasi. Bahkan dengan proses sosialisasi, wayang mengemban fungsi edukatif mempersiapkan anggota masyarakat agar mampu memainkan peran-peran sosial sesuai dengan pilihan hidupnya, dengan jalan mengembangkan sikap mental, menanamkan nilai-nilai dan kemampuan mengendalikan diri, dan memberikan orientasi pemahaman. Wayang merupakan salah satu wahana untuk mendewasakan manusia secara sosial (maturasi), sebagaimana yang diharapkan oleh Begawan Abiyasa kepada para Pandawa lewat adegan wejangan-nya. Karena itu, cerita wayang merupakan cerita didaktik yang didalamnya memuat ajaran budi pekerti yang menyiratkan tentang perihal moral. Bidang yang bersifat normatif, yang bersangkutan dengan kesusilaan atau akhlak, merupakan salah satu bidang filsafat yang disebut “etika”, dalam hal ini etika memberi nilai buruk atau baik atas perbuatan seseorang.

 

  1. Komunikasi Simbolik dan Media Ekspresi

 

Kehadiran wayang tidak dapat dipisahkan dalam komunikasi. Sebab, di samping isinya menggambarkan tentang bagaimana seharusnya manusia bertingkah laku dalam rangka interaksi antar umat manusia, juga mengemban fungsi sebagai media komunikasi, yakni menjadi alat untuk menyampaikan pesan-pesan, utamanya yang berhubungan dengan bidang etik. Karena pesan-pesan etik senantiasa dikemukakan secara eksplisit, malah seringkali secara implisit tersirat dalam alur cerita, maka diperlukan penafsiran terhadap makna-makna simbolik yang tersirat. Untuk kepentingan komunikasi, dunia ideal itu dieksternalisasikan ke dalam dunia material, baik dalam bentuk perilaku verbal yang menghasilkan teks ataupun perilaku kinesik. Ditinjau dari idealisme, pergelaran wayang terkait dengan proses komunikasi, dimana pengetahuan dan kemauan yang berkenaan dengan etika dieksternalisasikan.

 

Internalisasi simbolik adalah interaksi dan komunikasi yang memberikan kehidupan sosial yang ditandai oleh penggunaan bahasa (dalam arti luas) atau tindakan-tindakan yang bersifat simbolik. Untuk menangkap makna-makna yang terkandung dalam cerita wayang, diperlukan interpretasi terhadap tingkah laku bersimbol dari pemeran cerita. Keberadaan wayang lebih terkait dengan proses komunikasi simbolik, tepatnya komunikasi simbolik satu arah. Banyak ahli berpendapat, bahwa 75 % dari pengetahuan manusia bisa sampai ke otaknya, melalui mata, dan selebihnya menggunakan indra pendengar dan indra-indra yang lain. Dengan demikian, menyampaikan pesan moral lewat wayang yang menggunakan media ekspresi audio-visual, merupakan cara yang lebih efektif dalam rangka pendidikan etik.

 

  1. Nilai-nilai Etik dalam Wayang

 

Nilai etik yang dibahas dalam makalah ini adalah cerita atau lakon dalam perwayangan Banyak lakon yang mengandung nilai etika atau moral, seperti lakon Dewa Ruci tentang keteguhan hati seseorang, lakon Bale Sigala-gala tentang kuasa Tuhan yang menyelamatkan hambanya yang teraniaya. Nilai etika itu juga terdapat pada figur Semar sebagai pamong, di mana Semar yang hidup sepanjang zaman dalam pergelaran wayang purwa ini selalu mengabdi kepada para kesatria yang berwatak luhur. Biasanya induk semangnya bukan orang kaya, bahkan seringkali kesatria yang sedang sengsara menghadapi berbagai cobaan berat dalam perjuangan menegakkan kesatria yang sedang sengsara menghadapi berbagai cobaan berat dalam perjuangan menegakkan kesatria yang sedang sengsara menghadapi berbagai cobaan berat dalam perjuangan menegakkan kebenaran.

 

Meski hanya seorang abdi, namun nasihat-nasihat Semar pantang untuk dilanggar. Jika sekali dua kali dilanggar, maka celakalah asuhannya itu seperti yang diperagakan dalam lakon Kilat Bawana, Semar Kuning, Semar Papa, dan sebagainya. Baru setelah bendaranya minta maaf kepada Semar, mereka terlepas dari kesengsaraan. Namun, tidak selamanya Semar berada di belakang layar. Pada saat yang gawat, ia turun tangan mengambil inisiatif secara aktif. Saat Bathara Guru berlaku tidak adil dan menyeleweng dari hukum kebenaran (dharma), maka Semar tak segan-segan melabraknya tanpa ampun. Begitulah etika pemimpin yang diperagakan oleh tokoh Semar. Tentu banyak nilai etika yang diperoleh dari kisah atau figur-figurnya. Hampir setiap tokoh wayang, di samping memiliki sisi buruk juga memiliki sisi baik yang bisa diteladaninya.

 

  1. Nilai Etik pada Lakon “Murwakala”

 

Nilai etika atau moral juga terdapat dalam lakon “Murwakala” yang digelar setiap ritual ruwatan. Murwakala mengisahkan tentang asal-usul kehidupan atau purwaning dumadi. Sebuah ajaran spiritualisme yang disampaikan lewat simbol dan pasemon, yang mendorong kita untuk melakukan kajian filsafati tentang kehidupan di dunia yang penuh tantangan ini. Tetapi, ajaran moral yang diproyeksikan dalam adegan akhir lakon “Murwakala”, justru sebenarnya yang menjadi inti ajaran spiritual yang perlu dimaknai secara cermat. Ia adalah sebuah terapi psikologis agar manusia mampu menguasai “Sang Kala” (kendala dan kerawanan) untuk meniti masa depannya.

 

Sebagai ajaran moral, cerita Murwakala mengingatkan manusia akan akibat dari perilaku seks menyimpang. Asal-usul manusia tidak bisa dipisahkan dari kejahatan seperti terjilma dalam tokoh Bathara Kala yang dari kama salah. Jadi Murwakala sebenarnya merupakan upaya orang Jawa untuk menerangkan adanya akibat kejahatan seks. Dalam dunia pendidikan, Bathara Kala yang dalam perwayangan berwanda barong ini, sebagai lambang keangkaramurkaan yang harus diperangi.

 

Mengapa Bathara Kala dilahirkan Bathara Guru, raja para dewa di Kahyangan? Orang Jawa selalu bertolak dari pengalaman konkrit. Dalam pengalaman itulah ia merasa bahwa sejak kelahirannya tidak bisa lepas dari pengaruh kejahatan. Kejahatan itu demikian besar pengaruhnya, sampai raja dewa pun terkena. Bukan Bathara Guru yang melahirkan kejahatan, tetapi ia terkenal oleh kejahatan (nafsu) sehingga lahirlah Bathara Kala. Bahwa Bathara Guru bisa terkena kejahatan, itu disebabkan oleh pandangan tradisional masyarakat Jawa tentang anthropoformisme para dewa. Dewa bisa berubah dan bertingkah laku seperti manusia, sehingga Bathara Guru pun bisa bersalah. Apalagi dalam pandangan orang Jawa, para dewa bukan termasuk tataran tertinggi yang sudah sempurna. Tataran tertinggi yang sempurna adalah jagad raya sendiri dan kesuciannya.

 

Tapi sekali lagi, orang Jawa tidak terlalu bersoal dengan teori akstrak tentang kejahatan. Yang lebih penting adalah penyelamatan dari kejahatan itu, sehingga acara ruwatan sebenarnya lebih merupakan praktik penyelamatan dari kejahatan daripada kisah asal-usul kejahatan itu sendiri. Kisah Bathara Kala bukanlah yang utama. Ia hanya semacam pengantar untuk masuk ke pelaksanaan ruwatan, di mana dalang mengucapkan kata-kata suci dan bertuah. Dalam pelaksanaan ruwatan itu dalang me-wedar-kan makna Rajah Kalacakra, yakni kawruh sejatining urip, pengetahuan tentang kehidupan sejati. Dengan kekuatan ini manusia diharapkan mampu mengenyahkan keadaannya yang sukerta, dari keadaan tidak sempurna menjadi sempurna. Keadaan sukerta ini sebenarnya tidak terbatas pada kekurangan fisik seperti anak ontang-anting dan sebagainya, tetapi keadaan sukerta sendiri adalah keadaan umum, nasib dari setiap manusia. Artinya setiap manusia, entah berapa kadarnya, terkena oleh keganasan kejahatan. Maka setiap manusia sebenarnya perlu disucikan, perlu di ruwat agar menjadi sempurna. Ruwatan yang sebenarnya untuk membebaskan segala mala petaka (sukerta) kehidupan ini tiada lain adalah sebuah upaya melalui pendidikan yang holistik, termasuk pendidikan budi pekerti.

 

Orang memang harus berusaha sendiri menghapus keadaan sukerta, tetapi harus diingat bahwa penyempurnaan akhir tidak terletak pada dirinya, tapi pada kekuatan ilahi. Ucapan ruwatan pada hakikatnya adalah kepasrahan manusia untuk menyerahkan diri pada kekuatan ilahi agar kekuatan itu mampu mengenyahkan kejahatan pada dirinya dengan perantaraan seorang dalang yang dianggap bijaksana dan bisa menyelamatkan.

 

  1. Nilai Estetika dalam Perwayangan

Sebagai sebuah pertunjukan, wayang memiliki nilai estetik yang begitu tinggi. Sama dengan curiga (pusaka), kuda (kendaraan), dan kukila (burung), kesenian wayang merupakan klangenan bagi orang Jawa. Ini dikarenakan, wayang bukan saja memiliki filosofi yang begitu dalam, namun juga bernilai estetik tinggi.

 

  1. Pelaksana dan Peralatan Wayang

 

Sebagai karya seni, pergelaran wayang meliputi beberapa cabang kesenian (seni teater, ukir, sastra, musik). Dari unsur pelaksana dan peralatan, wayang terdiri dari dalang (sutradara), niyaga (pemain gamelan) dan pesinden (penyanyi wanita) atau gerong (kor penyanyi pria). Dari unsur peralatannya terdiri dari wayang kulit, kelir, blencong (lampu tradisional), gedhebog (batang pisang), kothak, cempala (kayu pemukul kotak), kepyak (dari kuningan), dan gamelan. Sedang unsur pertunjukan yang bisa dilihat adalah sabetan (gerak wayang), dan yang didengar meliputi (janturan), carios atau kandha, ginem (pocapan) suluk, tembang, dhodhogan, kepyakan, gendhing, gerong, sindhenan.

 

Betapa tinggi nilai estetika pada wayang di antaranya bisa dilihat dari seni ukir wayang (tatah sungging). Pembuatan setiap tokoh wayang, memiliki ciri dan watak tersendiri. Bineka wayang itu tidak menggambarkan manusia secara wajar, tetapi watak berbagai tokoh dalam dunia perwayangan. Setiap wayang melukiskan secara wajar, tetapi watak berbagai tokoh dalam dunia perwayangan. Aetiap wayang melukiskan watak tertentu dan dalam keadaan batin tertentu. Setiap pola bentuk wayang memiliki wanda, ungkapan watak atau ekspresi batin. Wanda wayang Kresna misalnya, berbeda dengan wanda Arjuna. Sementara wanda Arjuna beraneka ragam pula jenisnya, seperti wanda kinanthi, kanyut, mangu dan sebagainya. Setiap wanda melukiskan ekspresi keadaan batin tertentu dalam diri Arjuna. Karena itu, jumlah wayang kulit yang semestinya cukup 200 biji dalam satu kotak, karena adanya wanda tersebut jumlahnya bisa menjadi 650 biji lebih.

 

Ini belum lagi nilai estetika pada seni musiknya. Dalam pergelaran baku wayang kulit semalam suntuk, bunyi gamelan yang mengiringinya terbagai dalam tujuh pase. Yaitu, klenengan, talu, patet nem, patet sanga, patet manyura, tancep kayon (penutup), dan golek. Sambil menunggu kehadiran penonton atau tamu, pertunjukan diawali dengan klenengan dengan gending-gendhing Sriwidana, Kadrang Slamet, dan Pangkur, baru kemudian masuk ke talu. Selain mengandung nilai filosofi, dalam dramaturgi sebuah pertunjukan, fungsi gending patalon sebagai intro dari sebuah pertunjukan wayang.

 

  1. Telaah Sastra Lakon Murwakala

 

Jika di depan diuraikan tentang aspek filosofi dan etika dalam ruwatan dengan lakon Murwakala, pada bagian ini diuraiakan tentang aspek lakon Murwakala, khususnya dari aspek seni sastranya. Sastra menurut pangawikan Jawa ialah pengetahuan bukan saja yang diperoleh dari apa yang tersurat, melainkan juga tersirat. Alur kisah Murwakala mulai jejer awal sampai tancap kayon, ditemukan suatu komposisi lakon yang unik yang tidak lazim jejer awal sampai tancep kayon, ditemukan suatu komposisi lakon yang unik yang tidak lazim ditemui dalam lakon-lakon lainnya. Dalam Murwakala, terdapat dua bagian yang masing-masing berdiri sendiri, meski saling mengisi. Bagian pertama tentang kelahiran Bathara Kala dari kama salah Bathara Guru di atas Lembu Andini. Cerita ini diakhiri dengan Bathara Kala yang turun ke bumi dengan hak untuk memakan manusia sukerta, antara lain manusia lahir tunggal (ontang-anting).

Sampai di sini, cerita pertama itu selesai, lalu disusul bagian kedua yang temanya berlainan sekali. Bagian ini mengisahkan bertapa anak ontang-anting bernama Jatusmati merusaha menghindar dan menyelamatkan diri dari kejaran Bathara Kala. Ia akhirnya diselamatkan Dalang Kandha Buwana lewat ruwatan-nya. Bagaian kedua inilah yang merupakan inti masalah yang membentuk lakon Murwakala. Jadul Murwakala memang terasa dubius. Bisa diartikan asal mula Bathara Kala, tetapi bisa juga berarti “Menguasai Sang Kala”. Di sini Kala diartikan sukerta (kendala, kesulitan, kerawanan). Tema Murwakala dalam lakon Murwakala bukan terletak pada lahirnya Bathara Kala, melainkan pada ruwatan itu sendiri “Menguasai Sang Kala”. Kisah lahirnya Bathara Kala dalam ruwatan sekadar sebagai prolog untuk menerangkan Sang Kala”. Kisah lahirnya Bathara Kala dalam ruwatan sekadar sebagai prolog untuk menerangkan alur ruwatan.

 

Perbedaan mencolok antara prolog dan lakon utama Murwakala, dapat dilihat dari struktur komposisi para pelaku pendukung yang mewakili karakter masing-masing. Dalam sebuah lakon terdapat tiga kelompok kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan, yakni apa yang disebut protagonis, antagonis, dan tritagonis. Dalam prolog atau cerita pertama, jelas sekali Bathara Kala lah yang menjadi tokoh protagonisnya (pemeran utama), sedang para dewa yang memerangi (Wisnu, Narada) sebagai pihak protagonis. Bathara Guru bisa disebut sebagai tokoh tritagonis karena dialah penyebab utama timbulnya konflik karena ulahnya itu.

 

Pada bagian kedua (tema pokok), pola kedudukan peranan masing-masing berbalik. Bathara Kala menjadi tokoh antagonis, sedang protagonisnya Jatusmati, dan para dewa (Bathara Wisnu, Narada, Brahma) menjadi tritagonis sebab Bathara Wisnu menjadi Dalang Kandha Budawa dan dewa-dewa lain me-ruwat Jatusmati. Tetapi yang paling unik dalam pakeliran Murwakala adalah, bahwa yang menjadi protagonis paling utama adalah anak-anak laki-laki dan/atau perempuan dari orang tua yang punya gawe ruwatan, yang diproyeksikan pada adegan akhir. Pada adegan akhir inilah dilakukan upacara ruwatan yang sebenarnya dan bukan lagi sebagai adegan wayang.

 

Dengan kemampuan kita menangkap apa yang tersirat dari ruwatan, kita bisa membaca simbol-simbol atau pasemon yang tersiratkan melalui cerita Murwakala yang terkesan monoton atau terlalu datar itu. Di sinilah letak bobot nilai sastra dalam lakon Murwakala, hingga menjadi bergitu indah mempesonakan. Wayang memberikan peluang besar kepada orang Jawa untuk melakukan kajian filsafat tentang kehidupan di dunia yang penuh tantangan ini. Upacara ruwatan pada hakikatnya merupakan usaha manusia menjawab tantangan tersebut yang dilakukan dengan pertunjukan wayang, dalam hal ini melalui Sang Dalang Sejati Kandha Buwana dalam lakon Murwakala.

 

  1. Penutup

 

Demikianlah, dengan menikmati wayang, orang akan memperoleh nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalamnya, di samping nilai-nilai etika atau budi pekerti dan nilai estetika yang tinggi. Wajarlah jika seni dan budaya wayang kulit dari Indonesia ini dinobatkan sebagai karya adi luhung lisan warisan kemanusiaan yang tak dapat dinilai ketinggiannya. Dalam ikut membangun peradaban modern seperti sekarang ini, kiranya nilai-nilai yang terkandung dalam wayang masih relevan untuk dikembangkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Direktorat Pembinaan Kesenian Depdikbud. 1979. Ensiklopedi Wayang Purwa 1 (Compendium), Cet ke-1, Jakarta.

 

Gurirno, Pandam. 1988. Wayang, Kebudayaan Indonesia dan Pancasila, Cet ke-1, Jakarta: UI-Press.

 

Hardjowirogo. 1982 Sejarah Wayang Purwa Cet ke-1. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Koentjoroningrat, R.M. 1981. Pengantar Ilmu Antropologi Cet ke-3. Balai Pustaka, Jakarta: Balai Pustaka.

 

Mulder, Niels. Dr. 1984. Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa Cet ke-2. Jakarta: Percetakan Gramedia.

 

Mulder, D.C.Dr. 1966. Pembimbing ke Dalam Ilmu Filsafat Cet ke-1. Jakarta: BPK.

 

Mulyono, Sri. Ir. 1989. Wayang: Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya Cet ke-3. Jakarta: Haji Masagung.

 

Padmosoekotjo, S. 1985. Silsilah Wayang Purwa Mawa carita I-VII Cet ke-1 Surabaya: PT Mitra Jaya Murti.

 

Premadasa, C. 1989. Darah Merah di Kuruhsetra Cet ke-1. Jakarta: Yayasan Dharma Sarati.

 

Poerbatjaraka, RM Ng. 1954. Kapustakan Djawi Tjet ke-2. Djakarta: Penerbit Djambatan. Rasjidi, H.M. 1967. Islam dan Kebatinan Cet ke-1. Jakarta: Jajasan Islam Studi Club Indonesia.

 

Sajid, Raden Mas. 1958. Bauwarna Wayang Cet ke-1. Jogjakarta: Pertjetakan Republik Indonesia.

 

Soekmono, R. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1,2,3, Cet. Ke-5. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.

 

Tirtohamidjojo, S. 1987. Wayang Ilmu Pengetahuan Hidup Cet ke-1. Jakarta: Wiratama Prasetya Sakti.

 

BIODATA

 

Nama : RM Yunani Prawiranegara

Lahir : Ngawi, 01 Oktober 1948

Istri : Sumiati

Anak : 1. Heti Palestina

: 2. Ahmad Romawi

Alamat : Rumah : Putat Jaya C Barat XI/20 Surabaya

: Kantor : Bukit Darmo Golf Regency Kav. R 31-32 Surabaya

Telepon : 08155067242, 031.7382800, Faks 031,7382700

Email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Pendidikan : SLTA

Jabatan : 1. Komisaris PT Mitra Media SP Surabaya

: 2. Redaktur Opini dan Budaya Harian Sore Surabaya Post

Jabatan lain : 1. Anggota Dewan Kehormatan PWI Jawa Timur

: 2. Penasihat Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS)

: 3. Seksi Humas Ikatan Persaudaraan haji (IPHI) Jawa Timur.

 

 

 

 

 

You are here Kepustakaan Makalah Pemahaman Nilai Filosofi, Etika dan Estetika Dalam Wayang